Monthly Archives: April 2014

“HARTA = PETAKA”

 

zakat-3

Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
(Kisah Para Rasul 55:3)

Hari-hari ini, seluruh umat manusia sedang mengalami masa yang sama yaitu masa sukar. Tidak ada seorangpun manusia yang tidak mengalami kesukaran. Dan sekarang, kesukaran makin merajalela, bukan hanya dari sesama manusia tetapi juga dengan alam. Banyak orang merasa bingung bagaimana menimpan harta bendanya.

Apakah Harta = PETAKA ? Jawabannya tentu tergantung dua kemungkinan keputusan dan tindakan dari si pemegang harta itu sendiri, yang tentu dipengaruhi kedekataannya dengan siapa. Yaitu:

Pertama, Jika manusia dekat dan terikat dengan dunia dan iblis, maka ia akan bertindak seperi yang dikerjakan oleh Ananias, dengan tidak berlaku jujur atas harta yang kita miliki. Manusia dengan segala upaya menjaga harta miliknya supaya tidak diminta orang lain bahkan oleh TUHAN sendiri. Sifat kikir dan mementingkan diri sendiri inilah mendorong manusia melakukan manipulasi harta dengan berkata dusta, dan PASTI, akan berakhir dengan PETAKA seperti halnya Ananias.

Kedua, jika manusia dekat dengan Allah, maka apapun yang diputuskan dan yang akan dilakukan, akan dipengaruhi oleh hasrat Illahi juga. Allah tidak pernah dan tidak akan pernah berdusta. Manusia yang dekat dan terikat dengan ALLAH-pun tidak akan mengerjakan itu. Ia akan berlaku jujur dalam hal Mamon (Harta) dan tidak berlaku curang dan penuh tipu muslihat. Dalam diri manusia yang dekat ALLAH akan jauh dari sifat kikir dan mementingkan diri sendiri, tetapi mereka adalah manusia yang dapat dipercaya ALLAH dalam hak Harta dan tentunya akan bisa menjadi berkat. Hasilnya bukan petaka tetapi KESELAMATAN.

Lagi-lagi, sikap hati kita terhadap “harga kekayaan” akan mempengaruhi hasil akhir kita, apakah akan menuai PETAKA atau KESELAMATAN JIWA. Tuhan Memberkati.

“HARTA: Bukan TUAN Kita”

harta karun

“Emas dan perakmu sudah ditutupi karat; karatnya akan..memakan habis tubuhmu seperti api. Kalian sudah menimbun harta pada zaman menjelang akhir” (Yakobus 5:3 – BIS)

 

Teks firman di atas terkesan bahwa emas dan perak tidak ada gunanya sama sekali. Emas dan perak menjadi harta duniawi yang adalah berhala bagi umat Tuhan. Apakah benar demikian? Apakah posisi harta harta dalam hidup kita?

Sebenarnya emas dan perak (harta) tidak sama dengan BERHALA. Pada masa perjanjian lama, emas dan perak menghiasi rumah Allah (bait Allah) sebagai alat-alat mati yang dipakai mempermuliakan Allah. Emas dan perak tidak bisa menjadi berhala karena itu adalah benda mati. Yang ada, manusia mem-BERHALA-kan harta sehingga menjadi BERHALA dalam hidupnya. Kalau kita mau jujur, keinginan manusialah sumber masalahnya. Mereka begitu tamak di dalam kehidupan yang diliputi nafsu keserakahan. Akibatnya, harta (emas dan perak) menjadi tujuan hidupnya. Eksistensi manusia telah mengalami dis-orientasi (penyimpangan tujuan). Ini yang dikecam oleh Yakobus. Demi harta, manusia melakukan apa saja. Mereka menahan upah pekerja (ay.4), bahkan tidak segan-segan menganiaya dan membunuh sesamanya (ay.6). Inilah KARAT yang dimaksudkan yang pada akhirnya membinaskan pengumpul – pemilik harta (emas dan perak) seperti api.

Saudaraku, ingatlah bahwa masa – persiapan – yang kita hidupi adalah masa-masa akhir. Bahkan masa persiapan yang sudah hampir-hampir selesai. Peringatan ini juga untuk kita. Menjadi kaya tidak dosa tetapi ke-INGIN-an untuk KAYA adalah dosa (I Tim. 6:9). Kita hanya punya satu tujuan (keinginan) yaitu meng-HAMBA kepada Kristus. Tempatkan HARTA sebagai hamba kita dan bukan TUAN, dalam rangka mengerjakan tugas kita sebagai Hamba KRISTUS. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

“UANGku BUKANLAH UANG-NYA”

uang

 

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari

dan ikutlah Aku.”(Matius 19:21)

 

Saudara kekasih, coba renungkan firman di atas. Untuk menjadi sempurna, mengapa Tuhan menyuruh pemuda itu menjual segala (harta) miliknya, memberikan kepada orang miskin, dan ikut Tuhan? Bukankah di ayat sebelumnya pemuda ini telah melakukan hukum taurat? (ayat 18-19).

Ternyata Tuhan kita tidak bisa ditipu oleh cara ibadah kita. Kesalehan (ibadah) kita harus sampai pada pemutusan semua ikatan yang mengikat hidup kita. Sesaleh apapun kita jika dalam hidup kita masih ada BERHALA PENGIKAT, hal itu akan menjadi penghalang bagi kita untuk datang kepada Yesus, dan bahkan menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi sempurna seperti yang Tuhan katakan.

Tuhan Yesus tahu bahwa pemuda ini diikat oleh Mamon. Dia lebih cinta mamon (harta) dari pada mengikuti Gurunya yaitu Tuhan Yesus. Pemuda tersebut “berat” melepas hartanya karena ia masih berfikir bahwa itu adalah miliknya sendiri, hasil jerih payahnya sendiri, bahwakan warisan dari orang tuanya sendiri. Jadi dia menganggap wajar atas tindakan tidak melepaskan hartanya untuk orang lain dan Tuhan.

Saudaraku yang kekasih, ini cermin buat kita. Apakah kita juga berfikir bahwa “UANGku BUKAN UANG-NYA (TUHAN)? INGAT! Dialah PEMILIK yang sesungguhnya. Mari kita belajar men-TAAT-i kata firman Tuhan.

Dan dengan berani dan mantap kita ucapkan “Asal Tuhan senang, s’mua kurelakan, namaNYA dimuliakan, smua SUKA-SUKA TUHAN”. Tuhan Yesus memberkati